Akhir Perjalanan Teroris Seharga Rp93 Miliar
Share:
Diterjang Tiga Timah Panas

// Muhammad Iqbal/Satelit News/jpnn
DIEVAKUASI: Sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri membawa jenazah yang tewas dalam penyergapan, di sebuah warnet di Komplek Ruko Jalan Siliwangi, Pamulang,Tangerang Selatan, Banten, Selasa (9/3).
Rabu, 10 Maret 2010 | 12:01:58
Riwayat perjalanan hidup Dulmatin akhirnya terhenti di ujung timah panas Polri di Tangerang. Padahal, sebelumnya, teroris yang kepalanya dihargai senilai 10 juta dolar AS (Rp93 miliar) oleh pemerintah AS tersebut dikabarkan tertembak tiga kali.



Kabar kematian tersebut dipastikan oleh sebuah sumber kuat di kepolisian. “Sudah A1 (terpercaya, Red) itu Dulmatin. Tes DNA-nya memang belum keluar, tapi kami yakin itu Dulmatin dari ciri-ciri fisiknya,” ucap sumber tersebut. Dia juga menuturkan cewek yang ikut tertembak tersebut adalah istrinya dari Pekalongan, si Ummu Aisah.

Pada Januari 2005 lalu, militer Filipina merilis kabar Dulmatin tewas dalam sebuah serangan udara. Namun, kabar tersebut tak bisa dikonfirmasi. Pada Agustus 2006, tentara Filipina merilis kabar serupa. Lagi-lagi tak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Kemudian pada 16 Januari 2007, lagi-lagi dikabarkan Dulmatin tertembak di Jolo, Basilan.

Kali ini kabar itu tampaknya akurat. “Dia (Dulmatin, Red) tidak mati, tapi tertembak dan sempat tertangkap. Fotonya ada,” kata sebuah sumber di kepolisian. Namun, tidak tahu bagaimana ceritanya, Dulmatin tiba-tiba lepas. Diduga kuat, ini merupakan bagian dari pertukaran tawanan antara kelompok militan dengan pemerintah. Di Filipina memang kerap terjadi seperti itu. Sejumlah militan Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Tertangkap, namun kemudian dibebaskan oleh MILF (Moro Islamic Liberation Front).

“Karir” Dulmatin di dunia militan memang cukup panjang. Dia terlahir pada 6 Juni 1970 di Petarukan, Pemalang dengan nama Joko Pitono. Anak keempat dari lima bersaudara tersebut lulus SMA pada 1992 dan merantau ke Malaysia. Tiga tahun kemudian dia pulang, menikah dengan Ummu Aisah, dan berganti nama menjadi Asmar Usman.

Di Malaysia inilah, awal persinggungannya dengan kelompok militan. Berangkat ke Afghanistan, dan sejak awal sudah bergabung dengan faksi Ali Ghufron dan Hambali di Jamaah Islamiyah (JI). Dia dipercaya terlibat dalam sejumlah serangkaian pemboman gereja antara 1999-2002. Termasuk salah satu otak Bom Bali I pada 2002. Dia mempunyai banyak nama alias, yakni Joko Pitoyo, Abdul Matin, Muktamar, Djoko, dan Noval.

Selanjutnya, aktif di Poso, sebelum akhirnya Dulmatin kabur ke Mindanao dan menjadi instruktur di Kamp Hudaibiyah. Di Filipina dia dikenal dengan nama Zaid Ali.



Setelah pemerintah Filipina melancarkan all out war, MILF terdesak, dan begitu pula militan Indonesia. Sejumlah pentolan JI asal Indonesia seperti Dulmatin, Umar Patek, dan Ali Fauzi kemudian kabur ke arah daerah rawa-rawa di S.K. Pendaton. Di sana di tengah rawa-rawa, sekitar 20 orang militan Indonesia membangun sebuah kamp sendiri. “Tapi, kemudian berkurang satu per satu. Saya sendiri kini tak tahu bagaimana kondisi kamp itu sekarang,” kata Ali Fauzi.

Beberapa saat kemudian, Dulmatin kabarnya beralih ke arah Basilan. Di sana, kabarnya Dulmatin bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf, sebuah kelompok militan yang dengan visi yang condong ke Al-Qaeda. Sejak saat itulah, kabar pastinya tak pernah diketahui. “Terakhir ya 2007 itu,” tambahnya.

Sumber lain di kepolisian menyebutkan kembalinya Dulmatin ke Indonesia tak pernah diketahui secara pasti. Namun, yang jelas, keberadaannya sudah terendus sejak pemboman Marriott II pada 2009 lalu. “Memang masih ada Noordin Mohd Top, tapi keberadaan Dulmatin mulai terasa,” ucapnya.

Rupanya, Dulmatin memang benar-benar kembali ke Indonesia, dan menyusun kembali kekuatan.

“Kami memastikan Dulmatin bersama satu nama lagi yang masih buron (berinisial Mt) adalah otak kelompok yang kini berlatih di Aceh,” tandasnya. (ano/jpnn)



—-

Sepak Terjang Dulmatin

Nama : Asli Joko Pitono

Lahir : Pemalang, 6 Juni 1970

Nama Alias : Dulmatin, Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Noval.

Sekolah : – SLTP Negeri 2 Pemalang

- SMA 1 Pemalang

- SMA III Muhammadiyah, Yogyakarta (lulus 1990)

- Menjajal UMPTN ke ITB jurusan Elektro tetapi kalah



Debut Sebagai Teroris

1. Tahun 1992 merantau ke Malaysia, mengajar di pesantren Luqmanul Hakiem, Johor, Malaysia. Disinilah ia bertemu Dr Azahari, ahli pembuat bom itu.

2. Setelah bertemu Azahari, Dulmatin berlatih di kamp-kamp Al-Qaeda di Afghanistan

3. Bergabung dengan faksi Ali Ghufron dan Hambali di Jamaah Islamiyah (JI). Dia dipercaya terlibat dalam sejumlah serangkaian pemboman gereja antara 1999-2002

4. Melindungi Azahari Husin atau Dr Azahari, otak Bom Bali I 2002 yang menewaskan 202 orang.

5. Saat bom meledak di Hotel JW Marriot 2003, polisi sempat menemukan jejak Dulmatin bersama Azahari dan Noordin M Top di Bengkulu.

6. Januari 2005 lalu, militer Filipina merilis kabar Dulmatin tewas dalam sebuah serangan udara. Namun, kabar tersebut tak bisa dikonfirmasi. Pada Agustus 2006, tentara Filipina merilis kabar serupa. Lagi-lagi tak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Kemudian pada 16 Januari 2007, lagi-lagi dikabarkan Dulmatin tertembak di Jolo, Basilan.

7. Petinggi militer Filipina mengklarifikasi bahwa Dulmatin dan Umar Patek selamat dari pemberantasan teroris di Filipina selatan

8. Pada 9 Maret 2010, Dulmatin dikabarkan tewas seiring penggrebekan Tim Densus 88 Mabes Polri, di Pamulang Tangerang Selatan.


Tag: Rp93 MiliarTeroris

Terkait:

Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
:
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 

 
Portal News
Jawa-Bali-Nusatenggara
Sumatera
Kalimantan

Sulawesi
Majalah