Anak Merampok, Ortu Diusir Dari Kampung
Share:

pm/siantar
USIR ORTU PERAMPOK-Penatua dan masyarakat Desa Habinsaran Simorangkir menggelar rapat, Selasa (2/2), dan mengusir keluarga pelaku perampokan dari kampung mereka.
Kamis, 4 Februari 2010 | 10:53:42
Tarutung, Sumutcyber- Sejumlah warga, penatua di Dusun Hutaginjang Desa Habinsaran Simorangkir Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) memutuskan orangtua NSP, tersangka perampokan di kediaman Rondang Simorangkir, diusir dari kampung.

Rondang sendiri, setelah ditikam PH saat kejadian pencurian, sempat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Swadana Tarutung. Namun beberapa hari kemudian ia menghembuskan nafas terakhir. Sedangkan NSP hingga kemarin masih ditahan di kantor polisi. Selasa (2/2) warga Hutaginjang menggelar rapat di depan kediaman salah seorang warga, Op Perdana Simorangkir.

Pemimpin rapat, Op Perdana membacakan beberapa tuntutan masyarakat, antara lain setiap kepala keluarga (KK) di kampung tersebut menandatangani setuju atau tidak keluarga PH dipindahkan dari Siatas Barita. Saat pengumpulan tanda tangan, ternyata tak ada KK warga yang keberatan. Semuanya setuju keluarga NSP harus mengosongkan lahan mereka yang telah dibangun rumah.

Setelah penandatanganan, pemimpin rapat kembali membacakan hasilnya, yakni dalam waktu tujuh hari PH dan keluarganya harus meninggalkan desa tersebut. Keputusan tersebut ditandatangani kepala desa dan penatua desa. Mendengar keputusan tersebut, LS ibu kandung NSP langsung menangis histeris. Dia berbaring di tengah kerumunan sekitar 300 warga sambil terus menjerit. "Saya bersembah kepada raja kami agar sudi kiranya memaafkan kami, karena anak sayalah pelakunya," tangis LS.

Sementara ayah kandung NSP, yakni PH meminta maaf kepada seluruh warga, para penatua dan tokoh adat, agar memberikan izin kepada keluarga mereka untuk membangun rumah di sebelah timur desa tersebut. "Saya mau pindah. Tetapi saya mohon untuk terakhir kalinya agar para raja dan masyarakat mengizinkan saya membangun rumah di atas bukit sana," mohon PH yang berprofesi sebagai petani itu.

Namun permohonan PH tak digubris. Tak seorang pun warga memedulikan permintaannya. Menurut warga, lahan di bukit masih termasuk wilayah Desa Simorangkir. "Tadi sesuai hasil rapat, PH harus keluar dari Desa Simorangkir!" tegas masyarakat yang hadir.

Kepala Desa (Kades) Simorangkir Melpa Sibarani yang turut hadir mengatakan, keputusan tersebut merupakan hasil rapat warga, dan tanpa unsur paksaan. Jadi, katanya, segala keputusan harus diindahkan dan dituruti. "Memang keluarga tersebut sudah pantas dipindahkan dari desa ini, sebab sudah sangat meresahkan warga desa ini," tukasnya.

Ditambahkannya, kesalahan yang dilakukan NSP bukan kali pertama. Warga, katanya, sudah mengetahui NSP beberapa kali mencuri. Sekitar 6 bulan lalu, sambungnya, NSP pernah tertangkap basah mencuri di salah satu rumah warga. "Saat itu saya dan mereka (keluarga NSP, red) membuat kesepakatan bahwa anaknya tidak akan mengulangi hal tersebut. Selain itu, NSP pernah tertangkap juga tertangkap dalam kasus yang sama. Saat itulah masyarakat membuat perjanjian agar NSP tidak tinggal di desa ini lagi. Kesepakatan itu tidak dihiraukan keluarga PH. Mereka membiarkan anak mereka kembali tinggal di desa ini setelah keluar dari tahanan. Dan yang terakhir, kasus yang menimpa Rondang Simorangkir," terangnya.

Sementara itu anak korban Rondang Simorangkir, Bestian Simorangkir, yang datang dari Pulau Batam sangat mengecam tindakan NSP yang tega menganiaya ayahnya. "Mereka tidak pernah mengingat jasa orangtua saya yang memberikan tempat tinggal mereka di desa ini. Orangtua sayalah yang memberikan setapak tanah untuk keluarga PH agar bisa mendirikan rumah di desa ini," keluhnya.

Ditambahkannya, PH dan keluarganya memang pantas diusir dari kampung demi menjaga nama baik desa tersebut. "Perlu diingat, bukan saya yang membuat keputusan tersebut, tetapi penatua desa ini dan masyarakat," terangnya.

Sedangkan ibu kandung NSP, LS kepada wartawan mengatakan keputusan tersebut hanya sepihak. "Tolonglah kami yang tidak bersalah ini. Sebab anak saya yang bersalah, bukan keluarga kami," katanya sembari terbaring dan menjerit di halaman rumahnya. (pmg)


Tag: peristiwa

Terkait:

Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
:
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 

 
Portal News
Jawa-Bali-Nusatenggara
Sumatera
Kalimantan

Sulawesi
Majalah